PENDIDIKAN KARAKTER
“Pendidikan Karakter adalah pendidikan yang menitikberatkan muatannya
pada bagaimana membentuk seseorang agar tidak hanya sekedar tahu, tetapi juga
mampu mengamalkan kebenaran secara baik dan benar. Pendidikan karakter yang
berhasil akan menekan timbulnya frustasi sosial di masyarakat.”
Apa itu Karakter?
Dennis Coon dalam bukunya Introduction to Psychology : Exploration and Aplication mendefinisikan karakter sebagai suatu penilaian subyektif terhadap kepribadian seseorang yang berkaitan dengan atribut kepribadian yang dapat atau tidak dapat diterima oleh masyarakat. Karakter adalah jawaban mutlak untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik didalam masyarakat.
Konsep karakter ↓
- Karakter adalah keseluruhan perilaku psikis
hasil pengaruh faktor endogen (genetik) dan faktor eksogen (lingkungan)
yang membedakan satu individu dengan individu lainnya, yang menjadi
determinan perilaku seseorang dalam penyesuaiannya dengan lingkungan.
- Karakter bersifat memancar dari dalam (inside out). Apa yang terpancar
dari dalam diri kita, itulah apa yang “tersembunyi” dalam diri kita
Pengertian Pendidikan Karakter
Menurut Ahli
1. Pendidikan Karakter Menurut
Lickona
Menurut Lickona, Pendidikan karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu orang lain agar dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti.
2. Pendidikan Karakter Menurut Suyanto
Suyanto (2009) mendefinisikan
karakter sebagai cara berpikir dan
berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama,
baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun negara.
3. Pendidikan Karakter Menurut
Kertajaya
Karakter adalah ciri
khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah
asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, serta
merupakan “mesin” yang mendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap,
berucap, dan merespon sesuatu (Kertajaya, 2010).
4. Pendidikan Karakter Menurut Kamus
Psikologi
Menurut
kamus psikologi, karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik
tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang, dan biasanya berkaitan
dengan sifat-sifat yang relatif tetap (Dali Gulo, 1982: p.29).
Prinsip Pengembangan Pendidikan Karakter
1. Pendidikan karakter harus mempromosikan
nilai-nilai etik inti sebagai landasan bagi pembentukan karakter yang baik
2. Karakter harus dipahami secara komprehensif (pemikiran, perasaan, perilaku)
3. Pendidikan karakter melakukan pendekatan yang proaktif
4. Institusi Pendidikan yang menjadi komunitas yang peduli pada keterikatan antar anggota
5. Menyediakan peluang untuk melakukan tindakan bermoral bagi peserta didik
6. Kurikulum akademis yang bermakna dan menantang
7. Mengembangkan motivasi peserta didik
8. Staf komunitas belajar dan komunitas moral yang menjadi panduan Pendidikan karakter bagi peserta didik
9. Kepemimpinan moral
10. Orangtua & masyarakat sebagai partner dalam upaya pembangunan karakter
11. Evaluasi
2. Karakter harus dipahami secara komprehensif (pemikiran, perasaan, perilaku)
3. Pendidikan karakter melakukan pendekatan yang proaktif
4. Institusi Pendidikan yang menjadi komunitas yang peduli pada keterikatan antar anggota
5. Menyediakan peluang untuk melakukan tindakan bermoral bagi peserta didik
6. Kurikulum akademis yang bermakna dan menantang
7. Mengembangkan motivasi peserta didik
8. Staf komunitas belajar dan komunitas moral yang menjadi panduan Pendidikan karakter bagi peserta didik
9. Kepemimpinan moral
10. Orangtua & masyarakat sebagai partner dalam upaya pembangunan karakter
11. Evaluasi
Enam Pilar Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter didasarkan pada enam nilai etis bahwa setiap orang dapat menyetujui – nilai-nilai yang tidak mengandung politis, religius, atau bias budaya. Beberapa hal di bawah ini yang dapat kita jelaskan untuk membantu siswa memahami Enam Pilar Pendidikan Berkarakter, yaitu sebagai berikut :
1. Trustworthiness (Kepercayaan)
Jujur, jangan menjiplak , jadilah
handal – melakukan apa yang anda katakan anda akan melakukannya, minta
keberanian untuk melakukan hal yang benar, bangun reputasi yang baik, patuh –
berdiri dengan keluarga, teman dan negara.
2. Recpect (Respek)
Bersikap toleran terhadap
perbedaan, gunakan sopan santun, jangan menggunakan bahasa yang buruk,
pertimbangkan perasaan orang lain, jangan mengancam dan menyakiti orang lain,
damailah dengan kemarahan dan perselisihan.
3. Responsibility
(Tanggungjawab)
Selalu lakukan yang terbaik,
berpikirlah sebelum bertindak – mempertimbangkan konsekuensi, bertanggung jawab
atas pilihan anda.
4. Fairness (Keadilan)
Bermain sesuai aturan, berpikiran
terbuka; mendengarkan orang lain, jangan mengambil keuntungan dari orang lain,
jangan menyalahkan orang lain sembarangan.
5. Caring (Peduli)
Bersikaplah penuh kasih sayang dan
tunjukkan rasa peduli anda ,memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan.
6. Citizenship (Kewarganegaraan)
Menjadikan sekolah dan masyarakat
menjadi lebih baik, bekerja sama, melibatkan diri dalam urusan masyarakat,
mentaati hukum dan aturan, menghormati otoritas, melindungi lingkungan hidup.
Mengapa Seorang Anak Membutuhkan Pendidikan Karakter?
Pada dasarnya, pada
perkembangan seorang anak adalah mengembangkan pemahaman yang benar tentang
bagaimana dunia ini bekerja, mempelajari ”aturan main” segala aspek yang
ada di dunia ini . Anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter
apabila dapat tumbuh pada lingkungan yang berkarakter.
Urgensi Pendidikan Karakter
Pendidikan yang
diterapkan di sekolah-sekolah juga menuntut untuk memaksimalkan kecakapan
dan kemampuan kognitif. Dengan pemahaman seperti itu, sebenarnya ada hal lain
dari anak yang tak kalah penting yang tanpa kita sadari telah terabaikan.Yaitu, memberikan pendidikan karakter pada
anak didik. Pendidikan karakter penting artinya sebagai penyeimbang
kecakapan kognitif. Beberapa kenyataan yang sering kita jumpai bersama, seorang
pengusaha kaya raya justru tidak dermawan, seorang politikus malah tidak peduli
pada tetangganya yang kelaparan, atau seorang guru justru tidak
prihatin melihat anak-anak jalanan yang tidak mendapatkan
kesempatan belajar di sekolah. Itu adalah bukti tidak adanya
keseimbangan antara pendidikan kognitif dan pendidikan karakter.
Ada
sebuah kata bijak mengatakan “ ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa
ilmu adalah lumpuh”. Sama juga artinya
bahwa pendidikan kognitif tanpa pendidikan karakter adalah
buta. Hasilnya, karena buta tidak bisa berjalan, berjalan pun dengan asal
nabrak. Kalaupun berjalan dengan menggunakan tongkat tetap akan berjalan dengan
lambat. Sebaliknya, pengetahuan karakter tanpa pengetahuan kognitif,
maka akan lumpuh sehingga mudah disetir, dimanfaatkan dan dikendalikan orang
lain. Untuk itu, penting artinya untuk tidak
mengabaikan pendidikan karakter anak didik.
Pendidikan karakter adalah pendidikan yang menekankan
pada pembentukan nilai-nilai karakter pada anak didik.Saya mengutip empat
ciri dasar pendidikan karakter yang dirumuskan oleh seorang
pencetus pendidikan karakter dari Jerman yang bernama FW Foerster:
1. Pendidikan karakter menekankan setiap tindakan
berpedoman terhadap nilai normatif. Anak didik menghormati norma-norma yang ada
dan berpedoman pada norma tersebut.
2. Adanya koherensi atau membangun rasa percaya diri
dan keberanian, dengan begitu anak didik akan menjadi pribadi yang teguh
pendirian dan tidak mudah terombang-ambing dan tidak takut resiko setiap kali
menghadapi situasi baru.
3. Adanya otonomi, yaitu anak didik menghayati dan
mengamalkan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadinya. Dengan
begitu, anak didik mampu mengambil keputusan mandiri tanpa
dipengaruhi oleh desakan dari pihak luar.
4. Keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan adalah daya
tahan anak didik dalam mewujudkan apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan
marupakan dasar penghormatan atas komitmen yang dipilih.
Pendidikan
karakter penting bagi pendidikan di Indonesia. Pendidikan
karakter akan menjadi basic atau dasar dalam pembentukan
karakter berkualitas bangsa, yang tidak mengabaikan nilai-nilai sosial
seperti toleransi, kebersamaan, kegotongroyongan, saling membantu dan
mengormati dan sebagainya.Pendidikan karakter akan melahirkan pribadi
unggul yang tidak hanya memiliki kemampuan kognitif saja namun
memiliki karakter yang mampu mewujudkan kesuksesan. Berdasarkan
penelitian di Harvard University Amerika Serikat, ternyata kesuksesan seseorang
tidak semata-mata ditentukan oleh pengetahuan dan kemampuan teknis dan kognisinyan
(hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill).
Penelitian
ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Dan, kecakapan soft skill
ini terbentuk melalui pelaksanaan pendidikan karater pada
anak didik. Berpijak pada empat ciri dasar pendidikan
karakter di atas, kita bisa menerapkannya dalam polapendidikan yang
diberikan pada anak didik. Misalanya, memberikan pemahaman sampai
mendiskusikan tentang hal yang baik dan buruk, memberikan kesempatan dan
peluang untuk mengembangkan dan mengeksplorasi potensi dirinya serta memberikan
apresiasi atas potensi yang dimilikinya, menghormati keputusan dan mensupport
anak dalam mengambil keputusan terhadap dirinya, menanamkan pada anakdidik
akan arti keajekan dan bertanggungjawab dan berkomitmen atas pilihannya. Kalau
menurut saya, sebenarnya yang terpenting bukan pilihannnya, namun kemampuan
memilih kita dan pertanggungjawaban kita terhadap pilihan kita tersebut, yakni
dengan cara berkomitmen pada pilihan tersebut.
Pendidikan
karakter hendaknya dirumuskan dalam kurikulum, diterapkan
metode pendidikan, dan dipraktekkan dalam pembelajaran. Selain itu, di
lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar juga sebaiknya diterapkan pola pendidikan
karakter. Dengan begitu, generasi-generasi Indonesia nan unggul akan dilahirkan
dari sistem pendidikan karakter.
Tujuan & Fungsi Pendidikan Karakter
Tujuan dari adanya pendidikan
karakter adalah membentuk bangsa yang tangguh, berakhlak mulia, bermoral,
bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berorientasi ilmu pengetahuan
dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa berdasarkan
Pancasila.
Pendidikan karakter berfungsi
untuk:
1. mengembangkan potensi dasar agar berhati baik,
berpikiran baik, dan berperilaku baik
2. memperkuat, mengembangkan, dan membangun perilaku
bangsa yang multikultur
3. meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia.
Komponen Pembentuk Karakter
Menurut Lickona,
karakter berkaitan dengan pengerahuan moral (moral knonwing),
perasaan moral (moral felling), dan perilaku moral
(moral behavior/action). Berdasarkan ketiga komponen ini
dapat dinyatakanbahwa karakter yang baik didukung oleh pengetahuan tentang
kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan. Bagan
dibawah ini merupakan bagan kterkaitan ketiga kerangka pikir ini.
Gambar:
Keterkaitan antara Komponen Moral menurut Lickona
Pengetahuan moral merupakan aspek
pembentuk karakter seseorang. pengetahuan moral terdiri atas kesadaran moral (moral
awareness), nilai-nilai moral (moral value), memahami perspektif
orang lain (perspective taking), memiliki pertimbangan moral (moral
reasoning), dan mampu mengambil keputusan (decision making).
Perasaan moral terdiri dari hati nurani
(conscience), penghargaan terhadap diri sendiri (self esteem),
empati, menyukai kebaikan (loving the good), kemampuan untuk mengelola
emosi (self control), dan kesederhanaan (humility).
Tindakan moral terdiri dari kompetensi
(competence), keinginan (will), dan kebiasaan (habit)
*Bila ketiga komponen pembentuk
karakter ini selaras, maka nantinya akan terbentuk manusia-manusia yang tidak
hanya sekedar tau, tetapi juga bisa merasakan, dan akhirnya mengamalkan
kebenaran secara baik dan benar.
Proses Pembentukan Karakter Pada Anak
Suatu
hari seorang anak laki-laki sedang memperhatikan sebuah kepompong, ”Eh!”
ternyata di dalamnya ada kupu-kupu yang sedang berjuang untuk melepaskan diri
dari dalam kepompong. Kelihatannya begitu sulitnya, kemudian si anak laki-laki
tersebut merasa kasihan pada kupu-kupu itu dan berpikir cara untuk membantu si
kupu-kupu agar bisa keluar dengan mudah. Akhirnya si anak laki-laki tadi
menemukan ide dan segera mengambil gunting dan membantu memotong kepompong agar
kupu-kupu bisa segera keluar dr sana. Alangkah senang dan leganya si anak laki
laki tersebut.Tetapi apa yang terjadi? Si kupu-kupu memang bisa keluar dari
sana. Tetapi kupu-kupu tersebut tidak dapat terbang, hanya dapat merayap. Apa
sebabnya?
Ternyata
bagi seekor kupu-kupu yang sedang berjuang dari kepompongnya tersebut, yang
mana pada saat dia mengerahkan seluruh tenaganya, ada suatu cairan didalam
tubuhnya yang mengalir dengan kuat ke seluruh tubuhnya yang membuat sayapnya
bisa mengembang sehingga ia dapat terbang, tetapi karena tidak ada lagi
perjuangan tersebut maka sayapnya tidak dapat mengembang sehingga jadilah ia
seekor kupu-kupu yang hanya dapat merayap.
Itulah
potret singkat tentang pembentukan karakter, akan terasa jelas dengan memahami
contoh kupu-kupu tersebut. Seringkali orangtua dan guru, lupa akan hal ini.
Bisa saja mereka tidak mau repot, atau kasihan pada anak. Kadangkala Good
Intention atau niat baik kita belum tentu menghasilkan sesuatu yang baik. Sama
seperti pada saat kita mengajar anak kita. Kadangkala kita sering membantu
mereka karena kasihan atau rasa sayang, tapi sebenarnya malah membuat mereka
tidak mandiri. Membuat potensi dalam dirinya tidak berkembang. Memandukan
kreativitasnya, karena kita tidak tega melihat mereka mengalami kesulitan, yang
sebenarnya jika mereka berhasil melewatinya justru menjadi kuat dan
berkarakter.
Sama
halnya bagi pembentukan karakter seorang anak, memang butuh waktu dan komitmen
dari orangtua dan sekolah atau guru untuk mendidik anak menjadi pribadi yang
berkarakter. Butuh upaya, waktu dan cinta dari lingkungan yang merupakan tempat
dia bertumbuh, cinta disini jangan disalah artikan memanjakan. Jika kita taat
dengan proses ini maka dampaknya bukan ke anak kita, kepada kitapun berdampak
positif, paling tidak karakter sabar, toleransi, mampu memahami masalah dari
sudut pandang yang berbeda, disiplin dan memiliki integritas terpancar di diri
kita sebagai orangtua ataupun guru. Hebatnya, proses ini mengerjakan pekerjaan
baik bagi orangtua, guru dan anak jika kita komitmen pada proses pembentukan
karakter. Segala sesuatu butuh proses, mau jadi jelek pun butuh proses. Anak
yang nakal itu juga anak yang disiplin. Dia disiplin
untuk bersikap nakal. Dia tidak mau mandi tepat waktu, bangun pagi selalu
telat, selalu konsisten untuk tidak mengerjakan tugas dan wajib tidak
menggunakan seragam lengkap.
Karakter
suatu bangsa merupakan aspek penting yang mempengaruhi pada perkembangan
sosial-ekonomi. Kualitas karakter yang tinggi dari masyarakat tentunya akan
menumbuhkan keinginan yang kuat untuk meningkatkan kualitas bangsa.
Pengembangan karakter yang terbaik adalah jika dimulai sejak usia dini. Sebuah
ungkapan yang dipercaya secara luas menyatakan “ jika kita gagal menjadi orang
baik di usia dini, di usia dewasa kita akan menjadi orang yang bermasalah atau
orang jahat”.
Thomas Lickona mengatakan
“
seorang anak hanyalah wadah di mana seorang dewasa yang bertanggung jawab dapat
diciptakan”. Karenanya, mempersiapkan anak adalah sebuah strategi
investasi manusia yang sangat tepat. Sebuah ungkapan terkenal mengungkapkan
“Anak-anak berjumlah hanya sekitar 25% dari total populasi, tapi menentukan 100%
dari masa depan”. Sudah terbukti bahwa periode yang paling efektif untuk
membentuk karakter anak adalah sebelum usia 10 tahun. Diharapkan pembentukan
karakter pada periode ini akan memiliki dampak yang akan bertahan lama terhadap
pembentukan moral anak.
Efek
berkelanjutan (multilier effect) dari pembentukan karakter positif anak akan
dapat terlihat, seperti yang digambarkan oleh Jan Wallander, “Kemampuan sosial
dan emosi pada masa anak-anak akan mengurangi perilaku yang beresiko, seperti
konsumsi alkohol yang merupakan salah satu penyebab utama masalah kesehatan
sepanjang masa; perkembangan emosi dan sosial pada anak-anak juga dapat
meningkatkan kesehatan manusia selama hidupnya, misalnya reaksi terhadap
tekanan yang akan berdampak langsung pada proses penyakit; kemampuan emosi dan
sosial yang tinggi pada orang dewasa yang memiliki penyakit dapat membantu
meningkatkan perkembangan fisiknya.”
Sangatlah
wajar jika kita mengharapkan keluarga sebagai pelaku utama dalam mendidik
dasar–dasar moral pada anak. Akan tetapi banyak anak, terutama anak-anak yang
tinggal di daerah miskin, tidak memperoleh pendidikan moral dari orang tua
mereka.
Kondisi sosial-ekonomi yang
rendah berkaitan dengan berbagai permasalahan, seperti kemiskinan,
pengangguran, tingkat pendidikan rendah, kehidupan bersosial yang rendah,
biasanya berkaitan juga dengan tingkat stres yang tinggi dan lebih jauh lagi
berpengaruh terhadap pola asuhnya. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa
anak-anak yang tinggal di daerah miskin 11 kali lebih tinggi dalam menerima
perilaku negatif (seperti kekerasan fisik dan mental, dan ditelantarkan)
daripada anak-anak dari keluarga yang berpendapatan lebih tinggi.
Banyak
hasil studi menunjukkan bahwa anak-anak yang telah mendapat pendidikan
pra-sekolah mempunyai kemampuan yang lebih tinggi daripada anak-anak yang tidak
masuk ke TK, terutama dalam kemampuan akademik, kreativitas, inisiatif,
motivasi, dan kemampuan sosialnya. Anak-anak yang tidak mampu masuk ke TK
umumnya akan mendaftar ke SD dalam usia sangat muda, yaitu 5 tahun. Hal ini
akan membahayakan, karena mereka belum siap secara mental dan psikologis,
sehingga dapat membuat mereka merasa tidak mampu, rendah diri, dan dapat
membunuh kecintaan mereka untuk belajar. Dengan demikian sebuah program
penanganan masalah ini dibutuhkan untuk mempersiapkan anak dengan berbagai
pengalaman penting dalam pendidikan prasekolah. Adalah hal yang sangat penting
untuk menggerakkan masyarakat di daerah miskin untuk mulai memasukkan anaknya
ke prasekolah dan mengembangkan lingkungan bersahabat dengan TK lainnya untuk
bersama-sama melakukan pendidikan karakter.
Dorothy Law Nolte pernah
menyatakan bahwa anak belajar dari kehidupan lingkungannya. Lengkapnya adalah :
· Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar
memaki
· Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar
berkelahi
· Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar
rendah diri
· Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar
menyeasali diri
· Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar
menahan diri
· Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar
menghargai
· Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan,
ia belajar keadilan
· Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar
menaruh kepercayaan
· Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar
menyenangi diri
· Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan
persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan
Karakter Minimal yang akan Dikembangkan
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2009 telah
mengidentifikasi 49 kualitas karakter yang dikembangkan dari character first dan disepakati sebagai
karakter minimal yang akan dikembangkan dalam pembelajaran di Indonesia.
Pengembangan
Pendidikan budaya dan karakter bangsa dari hasil Sarasehan Nasional Pendidikan
Budaya dan Karakter Bangsa, Jakarta, 14 Januari 2010:
a)
Pendidikan budaya dan karakter bangsa
merupakan bagian integral yang tak terpisahkan dari Pendidikan Nasional secara
utuh
b) Pendidikan budaya dan karakter bangsa harus dikembangkan secara komprehensif sebagai proses pembudayaan
c) Pendidikan budaya dan karakter bangsa harus melibatkan 4 unsur (pemerintah, masyarakat, sekolah, dan orangtua) untuk tanggung jawab
d) Pendidikan budaya dan karakter bangsa memerlukan gerakan nasional guna menggugah semangat kebersamaan dalam pelaksanaan di lapangan
b) Pendidikan budaya dan karakter bangsa harus dikembangkan secara komprehensif sebagai proses pembudayaan
c) Pendidikan budaya dan karakter bangsa harus melibatkan 4 unsur (pemerintah, masyarakat, sekolah, dan orangtua) untuk tanggung jawab
d) Pendidikan budaya dan karakter bangsa memerlukan gerakan nasional guna menggugah semangat kebersamaan dalam pelaksanaan di lapangan
18 Nilai dalam Pendidikan Karakter Bangsa :
1.
Religius
Sikap dan perilaku yang patuh dalam
melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah
agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
2.
Jujur
Perilaku yang didasarkan pada upaya
menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan,
tindakan, dan pekerjaan.
3. Toleransi
Sikap dan tindakan yang menghargai
perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang
berbeda dari dirinya.
4.
Disiplin
Tindakan yang menunjukkan perilaku
tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
5. Kerja Keras
Tindakan yang menunjukkan perilaku
tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
6. Kreatif
Berpikir dan melakukan sesuatu
untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
7. Mandiri
Sikap dan perilaku yang tidak mudah
tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
8. Demokratis
Cara berfikir, bersikap, dan
bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
9.
Rasa Ingin Tahu
Sikap dan tindakan yang selalu
berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang
dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
10. Semangat
Kebangsaan
Suatu
sudut pandang yang beranggapan dirinya merupakan bagian dari bangsa dan negaranya
sendiri dan mampu mewujudkan sikap untuk mempertahankan bangsa dari berbagai ancaman
dan memahami konflik sosial yang terjadi di bangsanya baik dari luar maupun
dalam.
11. Cinta
Tanah Air
Cara berpikir, bertindak, dan
berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan
diri dan kelompoknya.
12. Menghargai Prestasi
Sikap dan tindakan yang mendorong
dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui,
serta menghormati keberhasilan orang lain.
13. Bersahabat/komunikatif
Sikap dan tindakan yang mendorong
dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui,
serta menghormati keberhasilan orang lain.
14. Cinta damai
Sikap dan tindakan yang mendorong
dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui,
serta menghormati keberhasilan orang lain.
15. Gemar
Membaca
Kebiasaan menyediakan waktu untuk
membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
16. Peduli
Lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu
berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan
mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
17. Peduli Sosial
Sikap dan tindakan yang selalu
ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
18. Tanggung Jawab
Sikap dan perilaku seseorang untuk
melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri
sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan
Yang Maha Esa.
Referensi:
Hurlock, E.B.
(1997). Develovmental Psycology A Life Span Approach. Fifth
edition.
Santrock. J. W.
(2002). Life-Span Development: Perkembangan Masa Hidup.(edisi kelima) Jakarta:
Erlangga
Yufiarti, Lussy Dwi
Utami. (2017). Orientasi Baru dalam Pedagogik. Bekasi: CHCD Offset
http://belajarpsikologi.com/pengertian-pendidikan-karakter/ diakses pada 02-06-2018 , 06.00 WIB
http://www.pendidikankarakter.com/kurikulum-pendidikan-karakter/ diakses pada 02-06-2018, 05.45 WIB
Bahan Pelatihan Penguatan Metodologi
Pembelajaran Berdasarkan Nilai-nilai Budaya untuk Membentuk Daya Saing dan
Karakter Bangsa, oleh Pusat Kurikulum
Departemen Pendidikan Nasional, 2010
Hidayatullah,
M.Furqon.(2010).Pendidikan Karakter:
Membangun Peradaban Bangsa. Surakarta: Yuma Perkasa
Pardjono. (2010). Pendidikan Karakter di Indonesia: Konsep dan
Implementasinya, Makalah disampaikan pada saat Seminar Nasional
“Revitalisasi Pendidikan Karakter dalam Membangun Bangsa” pada tanggal 16 Mei
2010.
Samani, Muchlas.,
Hariyanto. (2012). Konsep dan Model
Pendidikan Karakter. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.


.png)
Tidak ada komentar: